Loader
EVOLUSI KESADARAN by Nana Padmosaputro - Chandra Shakti | Personal Blog Untuk Berbagi Hal Positif
17881
post-template-default,single,single-post,postid-17881,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.7.8,woocommerce-no-js,qodef-qi--no-touch,qi-addons-for-elementor-1.2.2,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,columns-4,qode-theme-ver-26.3,qode-theme-bridge,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.6.0,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-1

EVOLUSI KESADARAN by Nana Padmosaputro

EVOLUSI KESADARAN by Nana Padmosaputro

Evolusi Kesadaran adalah proses ribuan tahun.
Bagaria Tampubolon :
Tetanggaku punya anak dua orang. Sekarang sedang hamil tua, ditawarin sama bu bidan untuk ‘tutup’/steril. Dia ogah… Dia bilang gini :
“Aku ga mau tutup, aku ga mau menghambat rejeki yang Tuhan kasih.”
Aku ngomong dalam hati, “Aduh… anak dua saja sudah ngutang sana sini. Baju robek sikit masih dipakai…gimana nanti ya???”
Andai aja dia baca artikelmu ini mba…

 

********
Nana Padmosaputro :
Ada orang-orang yang tak bisa tersadar oleh bacaan, kak.... Otak mereka tidak bekerja untuk merenungkan tulisan atau pengalaman orang lain, karena batok kepalanya sudah penuh sesak dengan keyakinan yang begitu tebal.
Orang yang bisa merenung, adalah orang yang masih memiliki RUANG di kepalanya untuk berproses.
Coba saja bayangkan, jika kita memiliki banyaaaak kesibukan yang deadline-nya semua mepet. Sempatkah kita merenung...?
Coba saja bayangkan, kalau rumah kita begitu penuh barang, apakah masih bisa dipakai berkerja, misalnya membuat pesanan kue atau melukis...? Mungkin untuk lewat pun sulit, karena serba sempit.
Orang-orang yang tidak mampu merenung, (kusebut sebagai kaum yang ‘konkrit harafiah’) hanya bisa tersadar ketika mereka secara harafiah dan konkrit mengalami babak-belur digempur kesulitan-kesulitan hidup.
Kelihatannya, bagi tetanggamu itu, baju sobek-sobek dan banyak hutang belum dianggap ‘babak belur’. Kenyataan itu belum cukup harafiah, sehingga mereka luput melihatnya sebagai ‘pertanda’ akan datangnya masalah besar.
Mari kita tonton saja... Akan ada waktunya mereka tak bisa berkutik sama sekali. Misalnya sungguh-sungguh tidak bisa makan. Sungguh-sungguh tidak pegang duit sepeserpun, padahal anaknya masuk rumah sakit. Misalnya, ya!
Ketika itu terjadi, coba deh kita amati :
Mereka akan mulai menyalahkan orang lain karena tega menolak menghutangi mereka lagi.... Mereka juga menyalahkan pemerintah karena tidak peduli pada rakyat kecil...
Bahkan, di puncak putus asanya, Tuhan pun akan disalahkan juga oleh mereka...! Biasanya dengan pertanyaan yang menggugat : “Dosa apakah kami, sehingga KAU timpakan kemalangan ini?”
Orang-orang yang tak terbiasa merenung, biasanya tidak tahu bahwa kesulitan-kesulitan mereka adalah buah dari kebiasaan, perbuatan, keputusan dan pilihannya sendiri.
Selalu begitu.

Lihat saja deh… Amati…
Tapi jangan jadikan ini sebagai beban. Kita nggak usah gelisah. Sejak jaman nabi sampai jaman medsos, orang-orang seperti ini selalu ada.
Ribuan tahun berlalu… dan mereka masih ada. Karena mereka beranak-pinak, membuat keturunan yang mirip-mirip cara berpikirnya dan mentalitasnya seperti mereka.
Itu makanya, aku menaruh harapan pada pendidikan dan edukasi masyarakat melalui media massa (termasuk sinetron, film bioskop, buku, medsos, seminar)
Ada banyaaaaaaaaaaaak generasi baru yang bisa diselamatkan, agar tidak meneruskan keterbatasan berpikir ortunya :

  • karena kita rajin berbagi pemikiran dan pengalaman hidup.
  • Karena produser membuat film yang bagus.
  • Karena para artis membuat podcast yang isinya bermutu.
  • Karena stasiun TV menciptakan program yang berisi.
  • Karena istri orang kaya melakukan kegiatan filantropi.
  • Karena anak politikus menekuni proyek kemanusiaan dan penyelamatan lingkungan.
  • Karena….
  • Karena…

Mari kita melakukan yang kita bisa. Untuk peradaban.

Original post by Nana Padmosaputro

 

No Comments

Post A Comment

Translate »