Loader
VISIONER SELALU DITERTAWAKAN DI AWAL by NANA Padmosaputro - Chandra Shakti | Personal Blog Untuk Berbagi Hal Positif
Nana padmosaputro gede agustapa, budaya, budidaya, spiritual, Chandra Shakti TV
Nana padmosaputro gede agustapa, budaya, budidaya, spiritual, Chandra Shakti TV
17927
post-template-default,single,single-post,postid-17927,single-format-standard,theme-bridge,bridge-core-2.7.8,woocommerce-no-js,qodef-qi--no-touch,qi-addons-for-elementor-1.2.2,qode-page-transition-enabled,ajax_fade,page_not_loaded,,columns-4,qode-theme-ver-26.3,qode-theme-bridge,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.6.0,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-1

VISIONER SELALU DITERTAWAKAN DI AWAL by NANA Padmosaputro

VISIONER SELALU DITERTAWAKAN DI AWAL by NANA Padmosaputro

Waktu aku kuliah di tahun 1987, jaman dimana Jakarta (dan Indonesia) masih banyak tertinggal dari negara lain, dan buku-buku terbitan terbaru, lambat datangnya….. aku menemukan buku-buku tulisan John Naisbitt yang sudah diterbitkan sejak tahun 1982 dan 1983.
Aku membacanya, mengadu ke bapakku, dan dia bilang : “Memang, dunia dan teknologi akan mengarah ke sana…”
Tapi, kepalaku saat itu masih belum bisa membayangkan : masak iya, di masa depan, orang yang punya informasi akan menjadi powerful dan kaya…? Bukannya orang yang punya jabatan, karena kerja keraslah yang akan powerful dan kaya…? Punya informasi ‘doang’ bisa bikin pengaruh apa sih…?
Ketika aku lulus dan kerja kantoran, internet BELUM ada. Saat itu masih jamak meja-meja kantor NGGAK ADA komputernya…! Orang masih kerja full dengan kertas. File-file cabinetku tinggi dan semuanya berisi bundelan kertas.
Ketika aku jadi manager, mulai dikasih komputer… wiiih rasanya keren buanget…! Kayak berasa jadi orang yang super modern dan hightech gitu…. Tapi komputerku BELUM ADA internetnya. Yang ada internet cuma komputernya direktur…
Suatu hari, aku dipanggil sama direkturku, katanya ada email dari Beijing. Mereka ingin belajar dari aku bagaimana aku kelola proyek skala nasional dengan budget besar.
Aku bengong. Darimana mereka, orang Beijing itu, tahu proyekku..? Wih… namaku sampai ke luar negeri..? Aku sampai geleng-gelengin kepala karena nggak bisa bayangin… informasi itu bisa nembus sampai negara lain…? Kok bisa..? (Setelah itu aku sibuk berkomunikasi dengan mereka dan saling bertukar pengalaman. Berbekal informasi dan pengalaman mereka, aku gantian bisa meniru mereka, gimana membuat proyek-proyek yang berbeda dan unik, karena belum pernah dilakukan di Indonesia).
Benar…! Ternyata informasi bisa membuatku berjaya.
Seketika aku ingat John Naisbitt… Ingat keyakinan bapakku. Ingat juga dengan kawan-kawanku yang menepis bukuku dan ngeledek “Halah Neeek… bacaan loe aneh-aneh. Gila loe ntar…! Udaaaah nggak usah dipikirinnn…”
Buktinya, aku tidak gila karena membaca buku tentang masa depan. Malah jadi sukses tuh.

*******
Puluhan tahun kemudian, tahu 2017, aku menulis serial DISRUPTION. Tidak semua adalah tulisanku. Apalagi, jelas bukan aku pencetusnya. Tapi, sama dengan dulu, aku CUMA DULUAN BACA... diantara kawan-kawanku, aku yang duluan ‘tahu’.
Lalu aku membaca buku trilogi Homo Sapiens oleh Yuval Noah Harari. Aku jadi semakin banyak tahu.
Karena tahu sendirian, aku jadi gelisah. Maka aku menuliskannya agar banyak orang tahu...! Tapi yang baca cuma 35 orang... 70 orang...
Bahkan ada seorang trainer dan motivator yang kondang, pernah membahas bahwa artikel-artikelku itu menakut-nakuti orang saja...! Membuat orang jadi pesimis.
Tahun 2017...! Baru 3 tahun yang lalu...!!!
Cuma sedikit yang percaya bahwa masa disruption akan tiba. Boro-boro melakukan persiapan.
Sekarang.... berkat pandemi covid19, masa itu datang lebih cepat...! Saat ini, semua orang : orang gunung, orang pulau, orang kota, orang pedalaman... harus hidup dengan teknologi komunikasi berbasis jaringan...!!!
Saat ini semua orang yang tak siap, pada kejungkir berantakan oleh KENYATAAN... lalu mengaduh, mengeluh, memaki... dan menuntut untuk dimengerti. Untuk dikasihani.
Banjir bandang teknologi, dimaki?
Hasilnya apa..?
Ibu-ibu mengeluh, tak mampu mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.
Bapak-bapak memaki menteri pendidikan karena mereka tak mampu membeli sekian unit gadget untuk anak-anaknya bersekolah online.

Segolongan masyarakat yang selalu sesumbar ‘banyak anak banyak rejeki’, kali ini menuntut pemerintah menyantuni mereka.
Sebagian lagi memaki pemerintah telah gagal dan mendemo. Mereka lupa, sebelumnya mereka menertawakan orang lain karena dianggapnya kurang beriman pada rejeki dari Allah… semata karena orang lain itu mengajaknya bekerja lebih giat dan ingat menabung. “Rejeki sudah ada yang ngatuuuur!” katanya mencibir. Ketika itu.
Sekarang semua mengaduh, dan aku tak bisa menyalahkan. Karena aku memahami : ya memang demikianlah mayoritas itu. Kemampuan berpikirnya terbatas hanya pada hari ini. Diajak mikir selangkah ke depan saja, belum mampu… apalagi berpikir 3 langkah ke depan.
Hanya ketika kejedug dan terpeleset, baru sadar bahwa disruption itu sungguh riil.
Nah sekarang sudah sadar. Tapi KEMAUAN untuk bangkit, belum ada. Umumnya masih berharap ditolong dan disuapin oleh pemerintah.
Rasanya aku ingin mengingatkan, “Halo…? Kemana imanmu yang dulu mengatakan bahwa rejeki diatur oleh Allah? Kok sekarang minta tolongnya ke pemerintah?”
Semoga segera menjadi sadar, bahwa sejak jaman jebot, Allah hanya memberi rejeki dan pertolongan kepada orang yang berikhtiar dan bersiap. Bukan yang memaki dan menyalah-nyalahkan.
*******
Bagi yang belum pernah membaca postingan soal disruption, ini ku kompilasi di sini. Semoga bisa memberi inspirasi, untuk bersiap….
Semoga belum terlambat.
DISRUPTION 1 :
(Penulis : Nana)
https://www.facebook.com/2117981824928457/posts/2129360583790581/?d=n
DISRUPTION 2 :
(Penulis : Unknown, Bagi yang tahu, mohon memberi info)
https://www.facebook.com/2117981824928457/posts/2129362873790352/?d=n
DISRUPTION 3 :
(Penulis : Rheinald Kasali)
https://www.facebook.com/2117981824928457/posts/2129364560456850/?d=n
Nana Padmosaputro
Jumat, 31 Juli 2020, 00:43

No Comments

Post A Comment

Translate »